Pages

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2018

Contoh Puisi "Veteran'


Veteran
Oleh Wahyu Putri Wijayani

Dibalik seragam tuamu
Tubuhmu letih dalam senja
Matamu mulai terkatup seiring waktu
Dan bibirmu pasrah dalam takdir

Contoh Puisi "Aku Waktu"


Aku Waktu
Oleh Wahyu Putri Wijayani

Dirimu yang tercipta bersamaku,
Apa kau tak melihatku ?
Aku kekasihmu
Yang berjalan beriringan denganmu
Yang senantiasa memelukmu
Dalam duka
Dalam luka
Bahkan dalam hampa
            Dirimu yangmasih abai terhadapku
            Apa kau tak merasakanku ?
            Rasakan getar ini
            Setiap getar adalah jiwamu
            Jiwa hidup dan mati.
Dirimu yang mulai memikirkanku
Bukalah matamu
Lihat ke arahku
Aku kekasihmu
Kekasihmu waktu
Aku waktu

Contoh Puisi "Permainan Waktu"


Permainan Waktu
Oleh Wahyu Putri Wijayani

Kau yang berjalan disana
Perhatikan
Matahari angkuh dalam diam
Daun jatuh dalam takdir
Udara menembus hampa
Dan waktu berjalan abai

Contoh Puisi "JONGGRANG"


JONGGRANG
Oleh Wahyu Putri Wijayani

Aku tak dapat memabahasakanmu
Suaraku menghilang dalam kekaguman
Imajinasiku liar
Kecantikanmu menyebar
Naluriku berkata maju
Hasratku ingin meminangmu !
Kujadikan kau permaisuriku
JONGGRANG !

Contoh Puisi "Namamu IBU"

Namamu “IBU” 
Oleh Alfina Iftihani


Tertulis jelas namamu di hatiku, IBU
Terbayang selalu bayangmu di hadapku, IBU
Kini kau dan aku tak lagi saling pandang tiap saat
Libuurlah pita tuk mempertemukan wajah kita
Ingin rasanya ku isi ponselku dengan namamu, hanya namamu
dan penuh namamu
agar kudengar suaramu tiap detik
agar ku mampu tuangkan segala kasihku, IBU
Ingin rasanya kuhempaskan tubuhku di dekapan wangi tubuhnya
Ingin rasanya kudeengar amarah intanya tatkala ku gores luka
Tiada nama terindah selain namamu
Tiada wajah terindah kuamati di dunia
selain wajahmu, IBU
Ku sayangi, selalu, selamanya, dan selalu
kau IBU

Contoh Puisi "Gadis Batu"


Gadis Batu
Oleh: Alfina Iftihani

Dialah gadis Kalimantan
berparas rupawan, berhati butawan
Dialah gadis Kalimantan
pemalas lakunya, pendendam hatinya
Dialah gadis Kalimantan
durhaka tindaknya

Tangisan hati ibu terdengar lirih
tatkala tak dianggap IBU
tatkala disebut PEMBANTU, BUDAK
Ya Tuhan, hukumlah anak durhaka itu!!!
hukumlah!!!!

Langit menjawab sumpah Sang Ibu
Alam berpadu dengan batu
Dialah gadis Kalimantan
Sang Gadis Batu Menangis

Minggu, 30 November 2014

Ulasan Kumpulan Puisi "Aku ini binatang Jalang"



Judul                           : Aku Ini Binatang jalang
Pengarang                   : Chairil Anwar
Penerbit                      : PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia Building Blok I, Lt. 5 Jl. Palmerah Barat 29 – 37, Jakarta 10270
ISBN                           : 978-979-22-7277-2

           
Buku kumpulan puisi berjudul “Aku ini Binatang Jalang” yang dikarang oleh Chairil Anwar ini merupakan kumpulan puisi sejak tahun 1942 sampai tahun 1949 dengan 80 puisi beserta 2 puisi saduran . Pada tahun 1942, Chairil Anwar memulai dengan puisinya yang berjudul “Nisan” dan yang terakhir pada tahun 1949, Chairil Anwar mengakhiri buku kumpulan puisinya dengan puisi yang berjudul “Aku Berada Kembali.” Namun adapula catatan kecil dari editor yang terdapat pada halaman ix, di halaman tersebut editor  mengulas tentang berbagai karya Chairil Anwar yang memiliki banyak versi. Puisi – puisi yang memiliki banyak versi tersebut antara lain dalam puisi berjudul “Aku” dan “Sajak Putih.”

Ulasan Kumpulan Puisi "Hujan Bulan Juni"



Judul                           : Hujan Bulan Juni
Pengarang                   : Sapardi Djoko Damono
Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Juni 2013
ISBN                           : 978-979-22-9706-5

                Buku kumpulan puisi berjudul “Hujan Bulan Juni” karangan Sapardi Djoko Damono ini merupakan puisi – puisi sejak tahun 1959 sampai pada tahun 1994. Buku kumpulan puisi ini terdiri dari 120 halaman dengan 102 puisi dengan berbaagai macam pesan di dalamnya.
            Biasanya dalam puisi Sapardi Djoko Damono yang ada dalam kumpulan puisinya berjudul Hujan Bulan Juni ini, cenderung didominasi oleh puisi yang sering menyebutkan tentang hujan, jenazah, malam, pemakaman dan waktu. Dan yang paling mendominasi adalah puisi yang menyebutkan kata hujan. Dalam buku kumpulan puisi Sapardi ini. Hujan dapat memiliki beberapa peran. Bukan hujan yang berperan sebagai tetesan air dari langit yang jatuh ke permukaan bumi. Namun hujan yang dapat berperan seperti suatu keadaan di kehidupan manusia yang kelam atau malah suatu keadaan di kehidupan manusia yang indah.

Minggu, 23 November 2014

Analisis Puisi "Menunggu Telepon Berdering" dengan Teori Michael Riffaterre (Semiotik)


Analisis Puisi “Menunggu Telepon Berdering” 
dengan Teori Michael  Riffaterre ( Semiotik )

Oleh Wahyu Putri Wijayani

MENUNGGU TELEPON BERDERING
Mukti Sutarman SP

menunggu telepon berdering
waktu ke waktu
angka – angka di arlojimu bertanggalan
ke lubuk sunyi hatiku yang rawan

mengapa tak jua kau putar
nomor teleponku
padahal gairah terlanjur begini  berdenyar
harap dan cemas terlanjur begini membakar