Separuh
Baya
Oleh: Alfina Iftihani
“Berapa
ini, Mbah?” Terdengar suara
sayup-sayup diantara ributnya motor yang bekeliaran di jalan depan rumahku. Di
sana aku melihat Ibuku tengah mengobrol dengan seorang nenek separuh baya yang
kulitnya sudah tak kencang lagi.
“Aku
kasih harga 5000 ya, Bu. Itu sudah harga pas, terserah Ibu mau menawar berapa.
Hehehe.” Senyum nenek itu keluar lebar dari bibirnya.
Sedari
tadi kuamati mereka berdua dari balik jendela rumah. Wajah Ibuku dan nenek
separuh baya tersebut terlihat jelas tanpa terbayang-bayang oleh noda sedikit
pun. Ya, itu karena kaca jendelaku telah ku lap seharian lalu.
Wajah
Ibu dan nenek tersebut seketika pudar menjadi bayang-bayang semu. Aku melihat
diriku sendiri seolah-olah ikut mengobrol bersama ibuku dan nenek separuh baya
tersebut di depan rumah.
“Nak.....ambilkan
Ibu dompet di kamar, ya.” Pikirku suara siapa yang memanggilku keras sekali
itu. Ku tatap muka kedua orang di balik jendela yang sedari tadi aku amati.
Tampak bayangan Ibuku melambai-lambai. Ternyata Ibuku yang berteriak dan
menyuruhku untuk mengambil dompetnya di meja kamar.
“Iya,
Bu. Ini saya ambilkan.” Jawabku segera setelah aku terbangun dari lamunanku.
***
